Dream what you want to dream, go where you want to go, be what you want to be, because you have only one life and one chance to do all the things you want to do.

Pages

Cari Blog Ini

Selasa, 18 Maret 2014

IN MEMORIAL
Hari berganti hari.. waktu pun telah berlalu... 3 semester q telah jalani.. belajar di sebuah kampus yang dulunya bukanlah universitas yang aku impikan bahkan aku tak pernah bermimpi untuk kuliah disini. Namun satu hal yang aku tahu, betapapun q tak suka allah menunjukan jalan yang terbaik bagiku.. teman-sahabat, bahkan keluarga baru aku temukan disini. Pengalaman dan orang-orang luar biasa aku temui.. ya allah nikmat tuhanmu mana lagi yang akan aku dustakan. Betapa allah selama ini sangat menyangiku...
Bahkan aku tak peranah merasakan semangat dan bahagia luar biasa bisa berada disini. Aku tak pernah, ya aku takpernah merasakannya selama ini, hingga q singgah disni.. betapa aku merasa dihargai, dimanusiakan, merasa memiliki sahabt yang dulu aku cari-cari.. betapa tidak ,mereka sangat menyayangiku, memberiku banyak harapan, mendukung semua impian kuu.. sungguhh trima kasih q haturkan.
Fakultas ilmu pendidikaan, universitas negeri semarang... kau berikan akau sejuta harapan, menghidupkan semua mimpi-mimpiku kembali yang dulu pernah punah bahkan lebur ditelan masa. Tapi disini aku diajarkan banyak sekali mimpi, bahkan harapan yang dulu akau tak pernah berani bermimpi. Kau memberikan aku banyak kesmpatan, mengajarkan aku banyak hal dan melindungi aku dengaan segala kasih sayang yang ada, semoga sejarah mencatat bahwa aku dan kau dulu pernah terhubung dan kau sejarah bisu bahwa aku pernah berjuang disini.
Untuk keluraga aku BEM FIP 2013 yang tercinta, taukah engkau betapaa aku tak mau kehilangan semua ini, bahkan jika kita harus terpisah dan harus menjalani kehidupan dan berjuang dijalan allah dengan jalan yang berbeda, sungguh moga Allah tetap memberikan kesempatan pada ku untuk terus memiliki keluarga seperti kalian. Trima kasih atas segala pengalaman yang diberikan, mengajarkan akan kedewasaan, kemandirian, menekan ego, menghargai dan lain sebagainya, moga kita menjadi orang-orang hebat dan suatu saat nanti kita akan bersama-sama berjuangan dalam penji kebaikan juga.
Bukankah mimpi itu harus tetap diperjuangkan, bukankah hidup harus  terus berjalaan walau suatu saat kita harus berpisah atau harus berjuang sendiri. Bukankah ini adalah hukum alam yang memag harus dijalaani, selama ada pertemuan pasti disana juga ada perpisahan, walaupun sakit bukan, namun semua harus dijalani...
Terima kasih atas semua moga allah meridhoi perjuangan kita selaama satu periode ini.. ^_^

Dan aku tak ingin mengucapkan selmat tinggal....
Aku Guru Honorer, Aku Ridho
Terinspirasi dari Kisah Guru Honor yang Menyabet Prestasi Nasional

Kekuasaan memang telang membelenggu
Membelenggu seperti kami rakyat jelata
Membuat kami semakin tak berdaya
Menjadikan kami semakin terpuruk kian terpuruk

Tapi selama iman masih ditangan
Maka keadilan akan terus kami perjuangkan

Gemuruh adzan dari meunasah menghiasi kota Solok, menjadikan syahdu suasana mengawali pagi. Memberi harapan-harapan baru kepada penjuru bumi. Menyambut mentari dengan mimpi dan semangat berapi. Mengubur kegundahan masa lalu. Ku sisingkan kedua lengan bajuku, dan mulai membasuh wajah ku.
“Bissmillah hir rohman nir rohim”
Syair-syair Tuhan mulai ku lantunkan, gerakan tangan mulai mengawali, membasuh semua anggota wudhu yang aku mengerti. Kemudian ku panjatkan doa-doa pada penguasa pagi, panjatan doa seorang hamba kepada Tuhan-Nya agar Dia selalu melindungi ku, harapan seorang anak adam akan keridhoan apa-apa yang aku lakukan.
Bersama keluarga kecilku, ku menjalani hidup apa adanya. Suamiku yang sangat menyayangiku dan ketiga buah hatiku Arif, Pura dan Bila yang selalu mampu membuat ku tersenyum di sela-sela kesibukan dunia yang ada. Mereka adalah penyemangat hidup, harta berharga yang Tuhan titipkan kepada ku.
Pagi ku menyongsong, mentari bersinar syahdu, cahayanya menerobos di balik dinding-dinding rumah khas minang. Pagi yang sangat indah, hari ini ku bersiap diri. Dengan seragam kebanggan ku, ku berangkat, ke sebuah sekolah tercinta. Tempat ku mengabdi dan berbagi ilmu dan pengalaman, dan tempat ku mengadu nasib, mengais rupiah demi rupiah, demi kebutuhan keluarga ku.
Aku adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri di kota ini. Walaupun mengajar di sekolah negeri, nasib ku pun tak ubah seperti berjuta guru yang lain yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Guru honorer itu biasa kami disebut. Guru yang bukan pegawai negeri sipil, yang diangkat oleh kepala sekolah itu sendiri. Dan keberadaannya pun kadang dimarjinalkan. Upah kami sangat jauh dari pendapatan minimum para pekerja. Bahkan kadang lebih besar gaji tukang bangunan ataupun pedagang asongan sekali pun.
Guru honorer hanya menerima upah sebesar Rp. 150-350 ribu/bulan. Gaji yang sangat kurang buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berbeda sekali dengan gaji seorang guru PNS, yang gajinya antara Rp. 1,5 juta sampai bisa lebih dari 2,5 juta per bulan. Tapi aku bersyukur dengan semua yang Allah berikan padaku adalah rizki yang luar biasa.
Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ku mengajar di dua sekolah sekaligus. Dan bahkan aku sering meminta jam tambahan untuk megajar demi mendapatkan rezki tambahan. Aku mengajar pendidikan agama islam (PAI). Bu Nur biasa anak-anak memangil ku, dan Nurbaya nama lengkap ku. Bagi ku gaji menjadi alasan ke sekian untuk ku mengajar, dan yang terpenting adalah mengajar, mendidik dan menjadiakan murid-murid ku orang-orang hebat yang akan membangun negeri ini.
Sudah 15 tahun aku mengabdikan diriku menjadi seorang guru. Bagi ku guru adalah pekerjaan yang paling mulia di antara pekerjaan yang lainnya. Ada kepuasan tersendiri ketika aku menjadi guru, melihat anak-anak menjadi orang yang lebih sukses, itu adalah sebuah penghargaan tersendiri. Dan menjadi guru honorer sebenarnya itu bukan pilihan ku. Ketika aku berkhendak, aku juga ingin seperti guru yang lain, menjadi guru pegawai negeri sipil. Guru yang diakui pemerintah, mendapatkan gaji yang lebih layak lagi, dan mendapatakan fasilitas yang memang sangat kami butuhkan.
Aku pernah beberapa kali ikut seleksi tes CPNS, tapi mungkin Allah belum memberi izin. Maka dengan terus melakukan yang terbaik sampai saat ini aku ridho sebagai guru honorer. Namun walaupun aku guru honorer tapi aku pun tidak mau kalah dengan guru-guru PNS dan guru-guru senior lainnya. Maka dengan kerja keras dan terus berusaha yang terbaik aku percaya suatu saat nanti akan ada balasan yang terbaik bagi ku.
Maka aku pun berusaha segigih mungkin untuk menjadi yang terbaik. Aku pun memborong jam pagi dan sore demi memenuhi kebutuhan kami. Mengorbankan sebagian waktuku bersama keluarga yang sangat aku cintai. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan, pilihan apakah kita akan terus maju dan gigih berjuang atau kita akan berhenti dan menyerah di sini, dan jawaban ku sudah tentu, aku akan berjuang.
Maka aku pun tidak mau kalah dengan guru-guru yang lain. Aku pun mulai rajin mencari informasi mengenai ajang perlombaan antar guru, khususnya di bidang karya tulis yang diadakan oleh pemerintah. Maka aku pun lebih berusaha keras dan lebih menekuni dunia karya tulis tersebut. Hingga akhirnya perjuangan-perjuangan ku pun membuahkan hasil. Awal pertama kali aku mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh Kementrian Agama Kota Solok. Maka aku berusaha membuat yang terbaik, dengan mengangkat tema tentang model pembelajaran pedidikan agama islam, Alhamdulillah akhirnya aku berhasil mendapat juara 1 tingkat Kota Solok.
Rencana Tuhan itu pasti selalu baik, di balik segala yang kita anggap buruk sebenarnya di sana tersimpan seribu rahasia yang sangat luar biasa yang telah diperisapkan Allah untuk kita. Dan aku pun percaya bahwa apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, selama itu baik dan membawa manfaat, maka Allah akan menggantinya dengan berlipat-lipat kebaikan dan kasih sayang untuk kita.
Sebagai seorang guru honorer yang berpenghasialan kurang dari keadaan sebenarnya, pernah membuat ku kadang berfikir untuk mencari pekerjaan yang lain saja. Tapi ternyata hati ini telah tertambat kepada anak-anak yang mengajarkan ku tentang berbagi kehidupan. Yah mungkin ini yang dirasakan oleh kebanyakan guru non-PNS di seluruh penjuru nusantara. Kebutuhan hidup yang sangat tinggi dan gaji yang sangat minim, sering membuat kami putus asa untuk terus mengabdi. Padahal kadang kualitas kami, sebagai guru honorer lebih baik dari guru PNS kebanyakan. Tapi inilah hidup, kadang yang baik malah terpuruk dan yang belum tentu baik malah mendapatkan singgasana dunia. Tapi aku harus tetap bersyukur apa adanya.
Anugrah mendapat juara 1 se-Kota Solok membuat ku lebih terpacu untuk mengukir prestasi lebih baik lagi. Dan ternyata perjuangan ku pun tidak sia-sia. Berbekal tulisan setebal 200 halaman, aku pun berlanjut ke tingkat provinsi, dengan tema menjadikan generasi cerdas yang agamis melalui sistem ajar professional dengan pemanfaatan media pembelajaran. Aku mengengkat tema itu karena aku sadari, minat siswa-siswi terhadap mata pelajaran pendidikan agama islam (PAI) sangat lemah. PAI kurang diminati layaknya bidang studi lain. Berdasarkan hasil pengamatan ku selama enam bulan, maka aku pun menyimpulkan bahwa ini semua disebabkan faktor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka aku pun mencoba untuk menarik minat siswa agar menyenangi belajar PAI lagi. Dan Alhamdulillah aku pun dinobatkan sebagi juara II tingkat Provensi Sumatra Barat.
Prestasi yang sangat membanggakan bagi ku pribadi, karena aku harus bersaing dengan guru-guru PNS dan guru-guru senior yang kualitasnya sudah dipastikan lebih baik dariku. Sebagai guru honorer, aku kadang masih merasa takut karena guru honorer bukanlah pegawai tetap. Kami bisa dipecat dari pihak sekolah kapan saja, ketika mereka tidak butuh kami lagi. Ya guru honorer bukanlah guru tetap, atau sering di sebut GTT (guru tidak tetap). Pengangkatan kami dilakukan oleh kepala sekolah tempat kami mengabdi, ketika mereka membutuhkan guru untuk mengajar di instansi mereka. Memang sangat malang guru honorer di negeri ini, bahkan ada yang sampai puluhan tahun mengabdi, tapi mereka tidak juga diangkat menjadi pegawai tetap. Dan ketika mereka sudah pensiun, nasib mereka sangat mengenaskan. Dan moga itu tidak terjadi kepadaku juga.  Wa Allah hu a’alam.
Maka tugasku sebagai manusia hanyalah, berusaha sebaik mungkin. Aku pun terus, ikut berkompetisi, dan akhirnya inilah tantangan yang lebih berat dari sebelumnya. Setelah kepala sekolah tempat ku mengabdi menawariku untuk berkompetisi di tingkat nasional, maka aku pun memberanikan diriku untuk melangkah. Namun tantangan kali ini jauh lebih besar, aku mewakili nama Sumatra Barat, tanah kelahiran ku untuk bersaing di tingkat nasional. Sudah tentu pesaingnya pun guru-guru yang hebat, telah teruji dan professional, dengan jam terbang tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ku pastinya. Tapi aku tak mau menyerah, dengan niat “ Bismillah hir rohman nir rohim” ku kuatkan niat ini, ku mantapkan langkahku.
Maka aku pun mulai mengikuti seleksi tahap demi tahap. berbekal tema yang sama, aku melangkah. Dan aku pun mengikuti seleksi dengan sebaik mungkin. Sampai pada seleksi presentasi, aku lebih gencar berusaha dan berdoa. Menunggu pengumuman, aku pun berharap yang terbaik pada Allah.
“Jika memang ini rizki ku, maka izinkan aku untuk menyambut rizki itu ya Allah”, doa ku disela-sela sujudku.
Sepekan kemudian pengumuman pun keluar, sungguh serasa kaki ini ingin lumpuh, tubuh ini menggigil seketika. Yah, Allah perkenankan aku menjadi salah satu yang terbaik, aku mendapat juara harapan terbaik II tingkat nasional.
 “Maka ni’mat Tuhan mu mana lagi yang akan engkau dustakan?”
Air mata bahagia ini pun tak tertahankan, seketika aku sujudka tubuh ini, bersyukur atas segala keni’matan yang tiada tara. kemudian aku pun meminta restu suami dan buah hatiku untuk ke Jakarta, Menerima piala Plus Tabanas oleh Kementrian Agama RI.
Sungguh sama sekali diri ini tidak menyangka, seorang guru honorer yang jauh dari ibu kota negeri ini menjadi salah satu yang terbaik. Maka itu pertama kali aku menaiki pesawat, pertama kali menjajakan kakiku di ibu kota Indoneisa, pertama kali melihat menara dan gedung-gedung tinggi menjualang. Air mata bahagia ini mengalir apa adanya.
Maka ketika aku diminta maju ke panggung yang bagiku sangat megah, menerima piala, maka seketika itu tulang ini terasa menggigil, air mata ini menetes dengan sendirinya. Piala itu di serahkan oleh direktur PAIS, Dr.H. Amin Haidari, M.Pd. Dan aku pun berkata disela-sela sambutan ku "piala ini saya persembahkan untuk semua guru honorer di Indonesia”. Sungguh bahagia yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
  
Menjadi guru honorer bukan berarti menghalangi kita untuk meraih prestasi, bukan berarti kita takut berkompetisi dan menjadi lebih baik lagi. Semua guru adalah sama, satu tujuan, satu visi dan satu misi, membangun generasi Indonesia lebih baik lagi. Menjadikan siswa-siswa kita berhasil adalah suatu kebanggan yang tidak bisa diukur oleh intan dan permata.
Namun sebagai guru honorer dan mewakili perasaan dan keluh kesah guru honorer yang lain. Jangan membeda-bedakan antara guru PNS dan guru honorer seperti kami, karena semua guru adalah sama, sama mengabdi dan berbagi. Dan guru-guru yang sudah lama mengabdi kiranya bisa di angkat menjadi guru tetap. Karena abdi mereka pada negeri ini sudah lama, dan kami pun mengharapkan sebuah pengakuan dari pemerintah, atas keberadaan kami. Agar kami bisa dapatkan hak kami, Untuk memenuhi kebutuhan kami, dan untuk keberlangsungan kami di hari kelak.
Mohon pemerintah lebih adil dan tidak menutup diri dengan segala perkara yang ada. Bahkan ada DPR yang tidak tahu tentang keberadaan kami. Sungguh itu sangat miris sekali bagi kami, karena kami sudah menganggap mereka sebagai orang tua kami. Orang yang menyalurkan aspirasi kami kepada petinggi negeri ini. Entah sampai kapan kami seperti ini, tapi sungguh saat ini aku ikhlas menjalani kehidupan ku.

Semarang, 04 Januari 2013


* Nurbaya, S.Ag, mengajar di SMKN 1 Kota Solok Sumatera Barat.

Minggu, 30 Desember 2012

senyum di Wajah indahMu

bagiku suatu kesuksesan adalah ketika ku mampu meelukiskan senyum tulus diwajah ayah dan bundaku. itu adalah kebahagianyang sanat luar biasa, melihat senyum mereka adalah semangat yang tidak pernah bisa redup. tapi kawan sungguh ku sangat menyesal, samapisaat ini ku elum bisa membahagiakan kedua orang tuaku, ku belum bisa melukiskan sedikit senyum diwajah mereka. sungguh keninginan ku untuk membahagiakan mereka sanagtlah besar, aku tahu bagimana ayah ku membanting tulang siang dan malam hanya untuk membiayaiku kuliah, aku tahu ketika orang lain terlelap dalam tidurnya, ibuku sudah mulai bangun dan bekerja. ya Allah mereka bekerja keras hanya ingin melihat ku bisa sekolah dan meraih mimpiku. padahal ku tahu, tuuh yang dulu kuat itu sekarang sudah rapuh. uban sudh mulai tumbuh di rambut mereka, kulit yang dulu kencang sekarang telaah mulai keriput, tapi sungguh samapi saat ini ku belum bisa membahagiakan mereka.
kawan aku tahumereka bekerja sia dan malam, menahansakit, haus dan dahga. akankah ku kan meghianati mereka, akan kah aku akan membalas perbuatan mereka dengan hanya bermain dan berfoya-foya. sungguh ku pasty adalah anak yan drhaka. orang tua bagiku adalah semanagt yang paling besar untuk akau bisa terus bermimpi. terus bekerja keras dan mencoba untuk tidak mengeluh.sudah banyak ni'mat yang allah berikan kepada ku tapi seringkali ku mengingkari. sungguh maafkan hambamuini.
kawan bersyukurlah ketika kalian masih mempunyai orang tua, bagaimanapun mereka, dan siapapun mereka, mereka adalahorayan telah memberikan beribu kasih sayang kepadamu. maka bahagiakanlah mereka, angan perna membuat mereka kecewa.

                                                                                                         

laskar pelangi



                                                  Laskar Pelangi



Diawali saat SD Muhammadiyah, sekolah kampung di Belitong dengan fasilitas yang sangat terbatas bahkan minus, membuka pendaftaran untuk murid baru kelas satu. Hingga saat2 terakhir pendaftaran hanya 9 orang anak yang mendaftar dan siap masuk kelas di hari pertama. Padahal sekolah reot ini sudah diancam untuk membubarkan diri jika murid barunya kurang dari 10 orang.

Di kalangan bawah, menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada beban biaya yang harus ditanggung selama bertahun2. Dan tertutupnya kesempatan untuk mempekerjakan si anak secara penuh waktu demi membantu mengurangi beban hidup yang semakin berat.

Jika tak ada Harun, seorang anak berusia 15 tahun dengan keterbelakangan mental, yang disekolahkan oleh ibunya agar tidak cuma mengejar anak ayam di rumah, tentu tidak pernah terjadi kisah ini. Ikal tidak akan pernah bertemu, berteman satu kelas dengan Lintang, Mahar, Syahdan, A Kiong, Kucai, Borek alias Samson, Sahara, Trapani, dan Harun. Tidak akan pernah bertemu Bu Muslimah, guru penuh kasih namun penuh komitmen untuk mencerdaskan anak didiknya. Dan tidak akan pernah ada Laskar Pelangi, yang di musim hujan selalu melakukan ritual melihat pelangi sore hari dengan bertengger di dahan2 pohon filicium yang ada di depan kelas mereka.

Selanjutnya dikisahkan ragam kejadian yang penuh suka dan duka dari kesepuluh anak anggota Laskar Pelangi. Nantinya di tengah cerita Laskar Pelangi mendapat anggota kesebelas, anggota wanita kedua, Flo.
Berkisah tentang Lintang, anak super genius didikan alam, yang rumahnya berjarak 40 km dari sekolah dan dilaluinya dengan bersepeda setiap hari tanpa mengeluh. Bahkan ketika suatu hari rantai sepedanya putus, dia rela berjalan kaki menuntun sepedanya ke sekolah. Dan merasa bahagia karena masih mendapat kesempatan ikut menyanyikan Padamu Negeri di jam pelajaran terakhir…. *merinding*… (jaman SMP aku sempat kagum dengan teman2 yang setiap harinya mengayuh sepeda dari rumahnya yang berjarak 10 km dari sekolah, demi bisa menuntut ilmu di SMP Negeri yang baru ada di kota kecamatan… tapi ternyata itu belum ada apa2nya).

Berkisah tentang Mahar anak genius berikutnya, tapi yang satu ini genius dalam bakat seni. Berkisah tentang rutinitas membeli kapur tulis di toko yang jauh dari sekolah dan berbau busuk, menggiring ke kisah cinta pertama Ikal kepada A Ling yang berkuku indah. Tentang keberhasilan mereka mengangkat nama SD Muhammadiyah yang selama ini selalu dianggap remeh dalam acara karnaval 17 Agustus dan lomba cerdas-cermat. Tentang cita-cita Ikal. Tentang hilangnya Flo. Tentang petualangan mistis ke Pulau Lanun menemui Tuk Bayan Tula bersama Flo dan Mahar. Dan bagian pertama ini ditutup dengan kesedihan mendalam yang sangat mengharukan saat Laskar Pelangi harus merelakan perginya seorang teman yang kurang beruntung…
Bagian pertama itu mengambil rentang waktu dari hari pertama Laskar Pelangi masuk kelas satu Sekolah Dasar Muhammadiyah hingga empat bulan menjelang Ebtanas SMP di gedung sekolah yang sama dengan orang2 yang sama (tambah Flo tentunya).

Pada bagian kedua, kisah ini melompat dua belas tahun kemudian saat Laskar Pelangi telah menjadi sosok2 dewasa yang harus berjuang menggapai peruntungannya dalam kehidupan nyata. Masing2 menjalani suratan hidupnya yang sudah ditetapkan. Ada yang berjalan sesuai cita2nya, ada yang tidak terduga lompatannya, ada juga yang menyerah pada nasib yang sudah tergambar jelas sejak dahulu.
Dan akhirnya pun mereka semua dengan perjuangan yang keras dan gigih dapat mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.


Sumber: http://www.terindikasi.com/2012/05/resensi-novel-laskar-pelangi.html#ixzz2GXkWsGqo


bagi ku.. buku ini sangat menginspirasi ku, bahwabukan orang-orang yang kaya raya yang akan suksestapi orang-orang yang sungguh-sungguhlah yang akan sukses.. laskar pelangi mengajarakan aku tentang banyak hal, mengajarkan ku tentan tidak mudah putus asa dan selalu pantang menyerah.. dan yang terpenting mengajarkan ku untuk terus bermimpi... walau cobaan ini sangat berat tapi yakinlah suatu saat nanti mimpi itu akan terwujud.

Rabu, 28 November 2012

the author traches

                bagi q sebuah mimpi adalah hal yang terindah,, yang selalu menumbuhkan berjuta semangat tug mengarungi kejamnya kehidupan.. menjadikan keajaiban-keajaiban yang tak pernah terlukis oleh orang lain.. yang menjadikan ku berbeda dengan kebanyakan orang.. dan salah satu sang motivator yang selalu membuat ku tetap bersemayam oleh lautan mimpi adalah Danang A. Prabowo.. seorang yang bagi ku menginspirasi banyak orang.. taukah kawan.. walaupun mimpi ku salama ini belum pernah terwujud sama sekali,, tapi ku kan selalu mencoba bermimpi. aku yakin apa yang telah ku lakukan selama ini tidak ada yang sia-sia, dan pengorbanan yang selama ini ku lakukan pasti kan membuahkan hasil suatu saat nanti.
               dan ku ingin menjadi seperti Danang A. Prabowo, menjadi mahasiswa berprestasi dan menjejakkan kakiku tuk belajra di negeri samurai. negara yang sampai saat ini membuat ku kagum atas semua yang telah mereka lakukan, negara yang memiliki budaya yang sangat luar biasa. yah ku ingin belajadari mereka, belajar tentang kedisiplinan, sopan santun, kerja keras dan lain sebagainya. sungguh apa yang aku impikan suatu saat nnati pasti akan tercapai. aku tak tahu tantangan yang bagaimana lagi yang akan aku hadapi, tapi ku yakin, mimpi itu pasti akan terwujud." dream, belive and make it happen"....

Senin, 22 Oktober 2012

my dreams



MY DREAMS

Berbicara tentang cita-cita maka bayang-bayang masa lalu itu akan terulang kembali. Masa lalu yang ku ukir dengan segala optimisme, keyakinan, dan perjuangan keras untuk melangkah menggapai cita-cita tapi semua itu sirna begitu saja. Saat ini ku mencoba memberanikan diri untuk merangkai puzzel-puzzel mimpi yang dulu pernah ku susun, walaupun bayang-bayang kegagalan masa lalu itu selalu membayangi, tapi di sini keluarga  baru, terus mendukung ku untuk bangkit dan melangkah. Ku coba tuk membuat peta kehidupan baru dan berharap bahwa suatu saat mimpi-mimpi yang ku rangkai akan menjadi coretan-coretan jejak langkah yang telah kulewati. Berharap bahwa kertas itu tak akan menjadi sobekan-sobekan dan abu lagi. Tapi kan menjadi coretan indah yang kan membawa mimpiku menjadi nyata. 50 mimpi telah ku ukir dan berharap akan menjadi nyata. Ini lah 50 mimpi ku:
1.      Membayar biaya kuliah semester 2 denagn biaya sendiri
2.      Mendapat beasiswa semester 3 dan seterusnya
3.      Memenuhi kebutuhan hidup dengan usaha sendiri
4.      Mendapat nilai cumlaude pada setiap semester
5.      Mengikuti berbagi lomba dan event nasional
6.      Menjadi seorang MC pada sebuah acara besar
7.      Mendirikan komunitas/sekolah bagi anak yatim dan anak jalanan
8.      Meni’mat indahnya kebun teh di pegunungan
9.      Menjadi anggota BEM KM UNNES
10.  Ikut PIMNAS
11.  Membeli sepeda motor sendiri
12.  Ikut MTQ Nasional
13.  Menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang
14.  Membeli kamera LSR
15.  Menyelami indahnya lautan lepas
16.  Menang dalam berbagai lomba di tingkat apapaun
17.  Menjadi yang terbaiak di kelas, di fakultas, universitas,......
18.   Menjadi seorang moderator dalam acara Besar
19.   Menulis artikel, opini, cerpen, dll yang di muat di media nasional
20.  Mendapat beasiswa exchange student/ pertemuan ke luar negeri
21.  Berkeliling Indonesia demi mengabdi pada negeri
22.  Menjadi mahasiswa berprestasi di FIP UNNES
23.  Menajdi mahasiswa berprestasi di UNNES
24.  Menjadi mahasiwa berprestasi nasional
25.  Menjadi seorang pembicara dalam suatu acara
26.  Bertemu dan berjabat tangan dengan Darwis Tere-Liye
27.  Membuat sebuah buku ( novel, biografi)
28.  Mempunyai usaha sendiri ( berwirausaha)
29.  Menghafal al-quran ( hafidtz)
30.  Lulus dengan tepat waktu( kurang dari 4 tahun)
31.  Lulus dengan nilai cumlaude
32.  Memeluk bapak dan ibu lalu mengatakan bahwa aku cinta mereka karena Allah
33.  Menghajikan kedua Orang tua
34.  Menjadi seoarang motivator
35.  Mendapat beasiswa belajar S2 ke Jepang
36.  Meni’mati 4 musim yang luar biasa di Jepang
37.  Lulus dengan nlai cumlaude dari salah satu universitas di Jepang
38.  Menjadi seorang pengusaha sukses
39.  Membeli mobil
40.  Membuatkan sebuah rumah untuk orang tua
41.  Menjadi motivator No.1 di Indonesia
42.  Menjadi orang kaya
43.  Menikah
44.  Menjadi seorang kepala keluarga yang baik
45.  Menjelajah mengelilingi dunia ( Madinah, AS, UK, Finlandia, dll)
46.  Berhaji dengan semua keluarga ke tanah suci
47.  Melanjutkan S3 di luar negeri
48.  Bekerja di departemen yang menangani kurikulum
49.  Menjadi menteri pendidikan
50.  Mengabdikan diri kepada negeri ( menjadi seorang pengajar)
Aku tak tahu bagaimana mewujudkan semua mimpi yang telah ku lukis ini, tapi yang bisa ku lakukan sekarang adalah berusaha sekeras mngkin, berdo’a pada Alloh dan percaya bahwa mimpi-mimpi ini akan menjadi nyata. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena ku bukan Tuhan , tapi sebagai manusia aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik. Orang tua ku telah bekerja keras, menjual darah dan keringatnya untuk kesuksesan diriku dan aku tidak akan pernah mengecewakan mereka untuk kesekian kalinya.

Rabu, 12 September 2012

ketika ku gagal

ketika ku gagal ku akan bangkit lagi, jika ku gagal lagi maka ku akan bangkit lagi, dan jika ku gagal lagi maka ku akan bangkit lagi lagi dan lagi. kehidupan ini tak akan pernah berhenti walaupun ku menyaerah saat itu juga, maka yang hanya bisa kau lakukan adalah bangkit dan mencoba menyusun puzzel-puzzel yang baru lagi. karena ku tahu, allah tidak akan semudah itu memberikan sebuah kesuksesan pada seseorang.. kita harus berjuang dan bekerja keras dulu.
dan ingatlah bahwa kesuksesan bukan dilihat dari hasil yang pernah kita capai tapi dari apa yang kita telah lakukan untuk mengejar cita-cita yang di tuju. " success is not distination, but a journey".